Berkunjung ke Museum Batik Pekalongan

Pada bulan Oktober 2022 saya berkesempatan untuk berkunjung ke Museum Batik yang berada di Pekalongan setelah menyelesaikan semua pekerjaan selama perjalanan dinas. Pada artikel ini saya akan bercerita dan berbagi tentang pengalaman saya berkunjung ke Museum Batik yang berada di Pekalongan. Yuk langsung saja baca sampai selesai ya!

Pekalongan memang sudah sejak lama terkenal dengan julukan Kota Batik. Julukan ini memang sangat cocok disematkan untuk kota Pekalongan yang memiliki sangat banyak sentra industri batik. Jadi tidak heran kalau Museum Batik didirikan di kota ini.

Lokasi dan Bangunan

Museum Batik Pekalongan terletak di Jalan Jetayu no. 1, Kota Pekalongan, bersebelahan dengan Masjid Al-Ikhlas. Museum ini diresmikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2006 dan menempati lahan seluas 3676 meter persegi.

Fasad Museum Batik Pekalongan
Fasad tampak depan Museum Batik Pekalongan

Bangunan yang ditempati oleh Museum Batik Pekalongan adalah bangunan peninggalan Belanda yang telah berdiri sejak tahun 1906 yang pada awalnya berfungsi sebagai kantor administrasi keuangan pabrik gula yang berada di sekitar area karisidenan Pekalongan. Pada perkembangannya, gedung ini mengalami beberapa kali perubahan fungsi sebagai Balai Kota, Kantor Walikota, hingga komplek perkantoran Pemerintah Kota.

Tiket Masuk

Begitu memasuki bangunan museum batik, saya langsung menuju meja pembelian tiket yang berada di area lobi. Ketika melakukan pembelian tiket, saya diminta untuk mengisi buku daftar pengunjung terlebih dahulu.

Lobi Museum Batik Pekalongan
Lobi Museum Batik Pekalongan

Harga tiketnya tergolong sangat murah, yaitu hanya 7.000 rupiah saja untuk orang dewasa, 5.000 rupiah untuk anak-anak dan pelajar, dan 20.000 rupiah untuk wisatawan mancanegara.

Dengan membayar 7.000 rupiah tersebut saya sudah ditemani oleh satu orang pemandu dari museum yang menjelaskan secara detail tentang sejarah dan detail dari koleksi yang dipamerkan di museum tersebut.

Tiga Ruang Pameran

Setelah membeli tiket, saya diajak oleh pemandu untuk memulai perjalanan mengelilingi museum. Ruang pameran di Museum Batik Pekalongan dibagi menjadi tiga ruang pameran. 

Kami memulai perjalanan dari ruang pameran 1. Ruang pamer 1 memamerkan berbagai batik hasil karya seniman dari Pekalongan. Ada lebih dari 20 koleksi batik karya para seniman lokal Pekalongan yang dipamerkan di ruang pameran 1 ini.

Ruang pameran 1 Museum Batik Pekalongan
Ruang Pameran 1

Sebagai tambahan informasi, semua koleksi batik yang dipamerkan di museum ini merupakan batik tulis, tidak ada batik cap ataupun batik cetak (print). 

Dari semua koleksi yang ada di ruang pamer 1 ini, yang paling menarik perhatian saya adalah batik dengan motif Ramayana karya Tamakun yang menggambarkan kisah Ramayana. Batik dengan sentuhan penuh warna yang berani.

Batik Ramayana
Batik motif Ramayana karya Tamakun yang dipamerkandi Museum Batik Pekalongan

Setelah saya puas menikmati koleksi yang ada di ruang pamer 1, kami melanjutkan perjalanan ke ruang pamer 2.

Ruang pamer 2 Museum Batik Pekalongan
Ruang pamer 2

Ruang pamer 2 memamerkan berbagai alat dan bahan yang digunakan para perajin batik dalam proses produksinya. Mulai dari jenis-jenis batik berdasarkan metode pembuatannya (batik tulis, batik cap, dan batik cetak), bahan kain yang digunakan, bahan pewarna, hingga jenis-jenis canting yang digunakan.

Ruang pamer 2 Musesum Batik Pekalongan
Beberapa koleksi yang dipamerkan di ruang pamer 2

Bagi Kamu yang belum tahu, canting adalah alat yang digunakan untuk melukis/membatik.

Di ruang pamer 2 dipamerkan berbagai jenis kain mori yang biasa digunakan untuk membuat batik. Ternyata jenis kain mori yang digunakan untuk membuat batik ada sangat banyak. Ada 8 jenis kain mori yang dipamerkan, diantaranya adalah blacu, primisima, paris, dan viscos.

Contoh bahan kain mori
Contoh bahan kain mori yang digunakan untuk membatik

Pengunjung juga diperbolehkan untuk menyentuh contoh bahan kain mori yang terpajang.

Namun, sayang ada beberapa contoh bahan santung dan sutera tidak terpajang ketika saya berkunjung ke Museum Batik Pekalongan saat itu.

Di ruangan ini juga dipamerkan berbagai pewarna alam dan kimia yang digunakan dalam pewarnaan kain batik. Contoh pewarna alam yang dipamerkan adalah secang untuk warna merah, tegeran untuk warna kuning, dan jelawe untuk menghasilkan warna kuning kecoklatan.

Pewarna alam untuk batik
Contoh pewarna alam yang biasa digunakan untuk membatik

Disini juga dipamerkan berbagai contoh jenis canting tulis dan canting cap. Yang paling banyak dipamerkan adalah canting tulis karena memang variasi peruntukan dan daerah asalnya yang bermacam-macam.

Canting museum batik pekalongan
Jenis canting tulis berdasarkan asal dan peruntukannya

Selain itu canting juga dibedakan berdasarkan ukurannya. Dan setiap ukuran memiliki fungsi yang berbeda dalam penggunaannya dalam proses membatik.

Canting 2
Jenis canting tulis berdasarkan ukurannya

Selain canting tulis, museum ini juga memamerkan contoh canting cap yang dibedakan berdasarkan bahan atau materialnya. Diantaranya adalah canting cap tembaga, canting cap kayu, canting cap benang, dan canting cap kertas.

Canting cap
Canting cap yang terbuat dari kayu, benang, dan kertas

Diantara jenis-jenis canting cap yang ada, yang saat ini paling banyak digunakan adalah canting cap tembaga. Karena canting cap tembaga relatif lebih tahan lama dibandingkan dengan canting cap yang terbuat dari bahan lainnya. Meskipun harga produksinya lebih mahal dibandingkan canting cap dari bahan yang lainnya.

Canting cap tembaga
Contoh canting cap tembaga

Selain berbagai alat dan bahan untuk membatik, di ruang pamer 2 ini juga dipamerkan koleksi batik dari berbagai daerah di nusantara dengan karakteristik corak dan warna yang khas.

Contohnya adalah kain batik motif dayak yang berwarna kuning pada gambar di bawah ini.

Batik nusantara
Motif batik dari berbagai daerah di Indonesia

Setelah puas berkeliling dan melihat-lihat koleksi di ruang pamer 2, kami melanjutkan perjalanan ke ruang pamer 3. 

Ruang pameran 3 berisi berbagai jenis batik berdasarkan sejarah dan asalnya. Di ruang pamer 3 ini saya disuguhi berbagai jenis koleksi batik. Diantaranya adalah jenis batik pedalaman.

Batik pedalaman
Contoh batik pedalaman

Batik pedalaman adalah sebutan untuk batik yang berasal dari Solo dan Yogyakarta. Biasanya batik batik pedalaman didominasi oleh warna coklat. Selain itu batik pedalaman cenderung lebih banyak digunakan untuk berbagai ritual atau upacara kebudayaan seperti pernikahan.

Selain batik pedalaman, ada juga batik pesisiran (batik yang berasal dari selain Solo dan Yogyakarta) yang cenderung lebih kaya akan warna. Contohnya batik Pekalongan, Jakarta, Cirebon dan Bali.

Contoh batik pseisiran
Contoh jenis batik pesisiran

Di ruang pamer 3 juga memamerkan batik dengan pengaruh Eropa dan Jepang. 

Pengaruh Eropa bisa dilihat dari motif beberapa kain batik yang menggambarkan kondisi sosial pada saat itu. Salah satunya adalah batik motif Cinderella yang dibuat pada awal 1900-an. 

Batik motif cinderella
Batik motif Cinderella

Ada juga batik pengaruh Jepang. Salah satu ciri motifnya adalah terdapat banyak motif bunga pada batik tersebut. Seperti yang kita tahu, seni jepang sangat identik dengan bunga. Salah satunya adalah ikebana (seni merangkai bunga). Bahkan nama ibukota Wanokuni adalah Flower Capital (Ibukota bunga).

Gambar di bawah ini adalah contoh batik motif Pagi Sore Djawa Baroe, salah satu motif batik dengan pengaruh jepang. Motif pagi sore adalah sebutan untuk batik dengan 2 motif berbeda dalam 1 kain.

Batik motif Pagi Sore Djawa Baroe
Batik motif Pagi Sore Djawa Baroe

Sejarahnya adalah motif pagi sore ini lahir karena pada zaman dulu kain mori merupakan komoditas yang sulit didapat, sehingga perajin batik pada zaman tersebut membuat dua motif batik pada selembar kain yang sama agar bisa digunakan pada dua acara yang berbeda.

Perpustakaan

Perpustakaan museum batik pekalongan
Suasana di perpustakaan Museum Batik Pekalongan

Setelah selesai melihat-lihat koleksi batik di ruang pamer 3, saya diajak untuk melihat perpustakaan yang berisikan berbagai jenis  koleksi buku. Dan yang pasti di perpustakaan ini terdapat banyak buku tentang batik. 

Buku tentang batik
Koleksi buku tentang batik di perpustakaan Museum Batik Pekalongan

Buku-buku yang terdapat di perpustakaan ini juga dapat dipinjam. Syaratnya hanya menyerahkan kartu identitas. 

Workshop

Setelah dari perpustakaan, saya diajak untuk mengunjungi workshop batik. Di workshop ini kebetulan sedang ada rombongan pelajar yang sedang mencoba untuk membuat batik sendiri. 

Jadi Museum Batik Pekalongan memang menyediakan workshop dimana pengunjung dapat merasakan pengalaman membuat batik sendiri dengan arahan dari petugas museum tentunya.

Sayangnya saat itu saya tidak bisa ikut membatik karena kebetulan slotnya sudah penuh. Jadi saya hanya melihat dan mengamati proses pembuatan batik yang dilakukan oleh para pelajar tersebut.

Berikut beberapa foto kegiatan praktik membatik yang sempat saya dokumentasikan.

Kantin & Souvenir

Setelah saya selesai melihat proses pembuatan batik yang dilakukan para pelajar di workshop batik, saya diarahkan ke kantin museum yang juga menjual berbagai souvenir batik khas Pekalongan.

Penutup

Museum Batik Pekalongan adalah tempat wisata edukasi budaya yang sangat baik, serta terawat. Kita tidak hanya bisa memandangi koleksi yang ada di dalamnya, namun juga bisa mendapatkan penjelasan yang detail dari pemandu museum.

Selain itu kita juga bisa merasakan pengalaman membatik di museum ini. 

Pokoknya saya sangat merekomendasikan Kamu untuk berkunjung ke Museum Batik Pekalongan kalau suatu saat Kamu sempat singgah di Pekalongan. 

Founder dan penulis konten di Luangin.com. Berpengalaman dalam bidang sales dan marketing serta meningkatkan bisnis dengan berbagai pendekatan. Suka jalan-jalan dan membaca berbagai buku.

Related Posts

Ekterior The 1O1 Bandung Dago

The 1O1 Bandung Dago – Hotel Chic di Pusat Kota Bandung

The 1O1 Bandung Dago adalah sebuah hotel butik bintang 4 yang berlokasi di jantung Kota Kembang, Bandung. Tepatnya berada di ujung selatan jalan Ir. H. Juanda. Untuk…

Featured

Pengalaman Menginap di Elsotel Purwokerto

Awal bulan Juni kemarin saya kembali harus melakukan perjalanan dinas ke Purwokerto. Setelah sebelumnya saya menginap di Java Heritage Hotel Purwokerto, kali ini saya memilih untuk menginap…

Fasad bangunan Java Heritage Hotel Purwokerto

Kesan Menginap di Java Heritage Hotel Purwokerto

Karena urusan pekerjaan yang mengharuskan saya untuk menetap selama beberapa hari di Purwokerto, pada akhir bulan Mei 2022 lalu saya melakukan perjalanan dinas ke Purwokerto. Atas saran…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *